Pesona Cap Go Meh Singkawang Selalu Menarik Perhatian Dunia


Cerita perjalanan hidup setiap orang tentu berbeda. Apa yang kita rasakan, yang kita jalani, akan begitu indah dalam memori. Perjalanan menuju ke suatu tempat, menjadi kisah paling nyaman untuk dituliskan dan diingat. Kita akan merasakan langkah kaki, tatapan mata, kesejukan hembusan angin yang sedikit berbeda ketika memasuki sebuah lokasi yang belum pernah disentuh.

Kota Pertama dalam Sejarah Perjalanan Hidup
Kota itu tampak asing bagiku. Bermula ketika saya harus menemani mbah (nenek perempuan) mengambil uang pensiunnya setiap bulan di kota ia bertumbuh. Mbah lahir di daerah Tebas (Sambas), namun banyak menghabiskan waktunya di Singkawang. Kota dengan hamparan pasir di halaman rumah, dengan putih bersihnya butiran itu, tentu sangat jauh berbeda seperti yang ada pada halaman di Pontianak. Saya mencatatkan sejarah baru, menjadikan Singkawang sebagai kota pertama yang saya kunjungi setelah "keluar" dari Pontianak.

Mbah bersuamikan seorang anggota ABRI. Ia mendapat uang pensiun dari jerih payah sang suami dalam mengemban tugas sebagai pejuang negara semasa hidupnya. Kami harus pulang-pergi ke Kota Amoy itu setiap bulan untuk mengambil uang pensiun. 

Waktu itu umurku tak lebih dari 6 tahun. Saya belum bersekolah, makanya bisa ikut hingga seminggu di sana. Silahkan berhitung, tahun berapakah waktu itu, - sebagai catatan - saya lahir pada tahun 1988.

Saya tak tahu kota ini punya apa, bagaimana tradisinya dan apa saja yang ada di sini, ya karena memang belum usianya saya mengetahui itu semua.

Singkawang juga merupakan kota kelahiran Papa. Ia besar dan sekolah di sana hingga SMP. Singkawang, tentunya bisa dikatakan menjadi kota asal saya juga, dari Papa.

Singkawang, Kota Labirin
Ketika beranjak dewasa, saya sering sekali mengunjungi kota amoy ini. Bukan untuk mencari amoy ya, tapi berkunjung karena urusan bisnis, main ke rumah teman, liburan ke pantai atau sekadar melewatinya ketika menuju Kabupaten Sambas, kampung istri.

Labirin, ini istilah yang saya berikan untuk jalanan Singkawang. Entah kenapa, saya sulit menghapal jalur jalanan Kota Singkawang. Seperti halnya labirin, saya dibuat berputar-putar dan kembali lagi ke tempat semula. Aneh? Tidak. Saya saja yang bebal. Haha. Ini dikarenakan banyaknya jalur satu arah yang mengakibatkan kita harus mengetahui seluk beluk "lorong" jika ingin kembali ke tempat semula.

Mengapa Singkawang Disebut Kota Amoy?
Singkawang adalah salah satu kota heterogen di Indonesia. Dengan berbagai etnis yang ada di sana, gelar itu layak mereka dapatkan. Namun mengapa kota ini disebut kota amoy? Amoy adalah panggilan dalam etnis Tionghoa untuk gadis belia yang belum menikah. Berasal dari bahasa Hokkian, secara harfiah, amoy (amoi) memiliki arti adik perempuan.

Menurut data yang pernah saya dapatkan dari berbagai sumber, suku Tionghoa memang mendominasi kota ini. Selain "amoy", kota ini juga disebut sebagai kota 1000 kelenteng, China Town-nya Indonesia.

Saya yakin, bagi anak sekolah di era 90-an hingga 2000-an, akan sangat akrab dengan tempat ini. Touring liburan kenaikan kelas, tentu akan mengunjungi tempat ini. Tak lain dan tak bukan yaitu Pantai Pasir Panjang.

Pantai Pasir Panjang merupakan tempat wisata pertama di Singkawang yang saya kunjungi, bahkan hingga berkali-kali. Setiap membahas tujuan tur kenaikan kelas, pantai ini selalu menjadi pilihan mayoritas. Disebut Pasir Panjang karena pantai berpasir putih yang terletak di Kecamatan Tujuh Belas ini membentang sepanjang 3 kilometer.

Tempat lainnya yang saya kunjungi ketika berada di kota ini, adalah Pasar Hongkong. Pasar yang "nongol" menjelang malam hingga dinihari ini didominasi oleh pedagang Tionghoa. Banyak jajanan dan spot tongkrongan di kawasan Jalan Setia Budi ini. Sesuai namanya, sajian di sini juga didominasi kuliner khas Tionghoa.

Pesona Cap Go Meh Singkawang yang Mendunia
Sumber Foto: https://genpisingkawang.com
Bangga! Sebagai masyarakat Kalimantan Barat, kita patut bangga dengan masuknya event ini dalam 100 Calender of Events Wonderful Indonesia. Setidaknya ini dapat memberikan banyak dampak dari berbagai sisi bagi masyarakat Singkawang.

Puluhan ribu wisatawan yang tumpah ruah di Jalan Diponegoro, sudah menanti arak-arakan 12 replika naga berukuran puluhan meter dan 1.060 tatung dalam rangkaian acara puncak Festival Cap Go Meh Singkawang 2019
Cap Go Meh (Ejaan KBBI: Capgome; Hanzi: 十五暝) melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harfiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama (Cap = Sepuluh, Go = Lima, Meh = Malam). Ini berarti, masa perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari.  - Wikipedia -
Acara puncak perayaan Cap Go Meh 2019 di Kota Singkawang dibanjiri lebih dari 70.000 wisatawan yang datang dari berbagai tempat untuk menyaksikan event yang sudah masuk dalam 100 Calender of Events Wonderful Indonesia 2019 ini. Total pengunjung tahun ini juga meningkat cukup signifikan dibanding tahun lalu. Sebagian besar wisman yang berkunjung berasal dari Singapura, Malaysia, Hongkong, Australia, Macau, Taiwan, Filipina dan Thailand.
Sumber Foto: https://genpisingkawang.com
"Festival ini diharapkan bisa memberikan dampak dari sisi nilai kreatif dan nilai komersil. Dengan datangnya banyak wisatawan, tentu akan memberikan dampak ekonomi  langsung bagi masyarakat,"
Menteri Pariwisata - Arief Yahya

Perayaan Cap Go Meh kini menjadi daya tarik wisata terbesar di Kota Singkawang. Banyak persembahan yang bisa dinikmati turis lokal maupun mancanegara pada perayaan Imlek hingga Festival Cap Go Meh.

  • Barongsai
Barongsai adalah tarian tradisional etnis Tionghoa dengan menggunakan "sarung" yang menyerupai singa. Atraksi yang sudah diakui KONI ini sangat digemari masyarakat. Mereka rela berhenti di tepi jalan demi menyaksikan atraksi ini meskipun dari kejauhan. Barongsai memang sangat menarik perhatian, mulai dari bentuk hingga atraksinya.

  • Tarian Naga
Dalam tarian ini, satu regu memainkan naga-nagaan yang diusung dengan belasan tongkat. Penari terdepan mengangkat, menganggukkan, menyorongkan dan mengibas-kibaskan kepala naga tersebut yang merupakan bagian dari gerakan tarian yang diarahkan oleh salah seorang instruktur. Pada 2017 lalu, atraksi naga sepanjang 178 meter di Cap Go Meh Singkawang berhasil tercatat di Museum Rekor Indonesia dengan rekor naga terpanjang.

  • Tatung
Tatung dalam bahasa Hakka adalah orang yang dirasuki roh dewa atau leluhur. Dimana raga atau tubuh orang tersebut dijadikan alat komunikasi atau perantara antara roh leluhur atau dewa tersebut. Dengan menggunakan Mantra dan Mudra tertentu roh dewa dipanggil ke altar kemudian akan memasuki raga orang tersebut. - Wikipedia -
Sumber Foto: https://genpisingkawang.com
Atraksi ini bagi sebagian orang cukup mengerikan. Yaa, saya pun masih agak ngeri-ngeri sedap sih melihat atraksi ini. Mereka (tatung) seolah tak merasakan sakit dari benda-benda tajam yang ditusukkan kebagian pipi dan lainnya. Belum lagi melihat mereka menggigit hewan di mulutnya. Bagi mereka (etnis Tionghoa), pertunjukkan Tatung/ Louya ini dimaksud untuk mengusir/ menangkal gangguan atau kesialan dari roh-roh jahat di perkampungan untuk masa mendatang.

  • Reog Ponorogo
Sumber Foto: https://genpisingkawang.com
Reog Ponorogo yang merupakan kebudayaan khas Jawa Timur pun ikut serta dalam perayaan Cap Go Meh tahun ini. Kehadiran Reog Ponorogo semakin memperlihatkan bahwa Singkawang mampu menjaga keberagaman budaya yang  mereka miliki, menegaskan status Singkawang sebagai Kota Paling Toleran di Indonesia.

Inilah indahnya Singkawang. Kota yang toleran, kota tempat dimana saya pertama kalinya keluar dari tanah kelahiran, dan tempat kelahiran Papa. Saat ini, Singkawang menjadi salah satu kota untuk mencari kedamaian sambil menatap hamparan pasir yang ada di sepanjang pantainya.
Jika kamu mencari kedamaian, teruslah menebar kebaikan. Jika kamu telah berdamai dengan alam, lukisan indah Sang Maha Kuasa ini akan selalu menyambutmu dengan senyuman, dimanapun, kapanpun kamu mau. Rasa syukur akan menjadi bukti, bahwa kita takjub dengan segala ciptaan-Nya.
Edo Pradana Prasitha, 19 Februari 2019

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Generasi Pesona Indonesia Kota Singkawang 2019” yang diselenggarakan oleh Generasi Pesona Indonesia Kota Singkawang


CONVERSATION

2 komentar:

  1. Aku semakin penasaran akan Singkawang. Sedikit menyesal rasanya kemarin enggak nambah satu-dua hari lagi agar bisa mampir ke Singkawang. Eh tapi mungkin ini biar aku giat menabung bisa ke Pontiakan lagi dan ke Singkawang. Tahun depan insya Allah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditunggu yaa jalan2 ke Pontianak dan Singkawangnya. Tinggal pilih aja mau pake mobil atau motor. Driver sudah standby ni. Hahahaha

      Hapus

"Komentar yang baik akan menunjukkan pribadi yang baik pula."

Terima kasih telah berkunjung dan membaca tulisan ini. Bantu SHARE yaa jika berkenan. Silahkan centang beri tahu saya untuk berinteraksi lebih lanjut di kolom komentar.

Salam hangat,
Leemindo.com