Saprahan, Menikmati Kuliner Pontianak Sambil Melestarikan Budaya


Leemindo.com Berbicara tentang kuliner Pontianak, akan ada banyak hal yang menjadi gambaran di dalam pikiran kita. Paling banyak tentunya tentang beragam olahan dan rasa yang maknyus. Menikmati kuliner tidak hanya sebatas kenyang atau puas dengan rasa yang dihidangkan. Ada hal paling penting yang mesti kita ketahui yaitu asal usul kuliner tersebut. Di Kota Pontianak, ada sebuah tradisi untuk menikmati kuliner asli turun temurun yang dijaga keberadaannya hingga saat ini.
 
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dimiliki bersama oleh sekelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, seperti adat istiadat, pakaian, karya seni hingga kuliner. 

Ada satu tradisi yang berhubungan dengan kuliner dimana hingga saat ini masih terjaga eksistensinya di Pontianak yaitu budaya saprahan. Saprahan dalam adat istiadat melayu berasal dari kata “saprah” (berhampar), belampar (melayu), yakni budaya makan bersama dengan cara duduk lesehan atau bersila di atas lantai dengan bentangan memanjang. Satu bentangan biasanya berisi 8-10 orang.
 
Filosofi budaya ini adalah untuk mengangkat nilai-nilai kebaikan. Banyak nilai kebaikan yang terjadi ketika saprahan seperti nilai kebersamaan, keakraban, toleransi dan kepemimpinan. Dalam adab besaprah, harus ada pemimpin tradisi makan bersama itu. Kepala saprah tidak boleh berhenti sebelum anggota saprahan lainnya selesai. Itu menunjukkan nilai kepemimpinan bahwa seorang pemimpin harus mengayomi. Nah, jika budaya makan bersama ini terus kita lestarikan, masyarakat Kota Pontianak terutama generasi muda akan cepat untuk menumbuhkan nilai-nilai tersebut. Budaya ini juga akan menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Kota Khatulistiwa ini.
 
Saya sering mengikuti budaya saprahan ini di Sambas dan Pontianak ketika menghadiri hajatan keluarga seperti pernikahan, aqiqah, syukuran dan lain-lain. Kebersamaan kami memang sangat kental. Ada sedikit perbedaan saprahan Pontianak dan Sambas, yaitu salah satunya terletak dalam susunan hidangannya. Jika di Sambas, kita akan duduk melingkari hidangan yang ditaruh di dalam baki sekitar 4-6 orang per kelompok. Di Pontianak, saprahan dilakukan dengan cara berjejer memanjang saling berhadapan.
 
Dalam acara saprahan, semua hidangan makanan disusun secara teratur di atas kain saprah. Peralatan dan perlengkapan dalam adat saprahan selain kain saprahan yaitu piring makan, kobokan beserta serbet, mangkok (untuk nasi dan lauk), sendok nasi dan lauk serta gelas minuman.
 
Yang paling saya tunggu ketika saprahan tentu hidangannya! Wow! Ngiler, kan! Menu yang paling favorit adalah nasi kebuli dicampur semur daging dan paceri nanas, (biasanya ada telur rebus menemani daging yang tergeletak sendiri) dan minumnya air serbat. Jangan lupakan penyedap selera khas saprahan yaitu sambal wak dolah. Sambal ini adalah perpaduan antara cabe, tomat, bawang bombai, ditambah jeruk sambal beserta irisan kulitnya, dan belacan tentunya.

Beliorlah kite mbayangkan e te’ tu.
 
Kita juga akan menemukan kue-kue tradisional Pontianak seperti putu mayang, bingke, blodar, dan sebagainya.
 
Nah, sebagai generasi muda, marilah kita menjaga budaya saprahan ini. Wisatawan yang datang ke Kota Pontianak pun tidak sekadar mencicipi sajian asli Pontianak, tetapi juga dapat merasakan ciri khas makan bersama dalam saprahan tersebut.
 
Seru kali yee kalo ade wisatawan asing ke Pontianak, kite ajak makan bersaprah dan mereke makai baju telok belanga. Hahaha.
 
Inilah salah satu kebanggaan yang bisa kita lestarikan. Jadi, wisatawan tidak hanya menikmati kulinernya saja, tetapi juga sambil mengikuti kebudayaan untuk menikmati sajian makanan tersebut.
 
Kesimpulannya: Budaya saprahan, menjadikan kita tidak sekedar mencicipi kuliner Pontianak tetapi juga melestarikan budaya daerah. Keren banget!

CONVERSATION

2 komentar:

  1. kearifan budaya lokal yang nggak boleh hilang ni.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari kite lestarikan. Kuliner bukan cuma makan, kenyang, bayar, disini kite byk nilai baik yg didapatkan.

      Hapus

"Komentar yang baik akan menunjukkan pribadi yang baik pula."

Terima kasih telah berkunjung dan membaca tulisan ini. Bantu SHARE yaa jika berkenan. Silahkan centang beri tahu saya untuk berinteraksi lebih lanjut di kolom komentar.

Salam hangat,
Leemindo.com