Racun dari Jessica untuk Sang Mertua

jessica wongso, kisah jessica, racun, hikmah dari seberang, inspirasi

Leemindo.com Kisah ini disadur dari sebuah dongeng dari negeri Cina. Bercerita tentang konflik antara menantu dan mertua. Akibat sebuah kebencian, dibalut dengan rasa dendam namun berakhir dengan sebuah kecintaan. Bagaimana kisahnya? Selamat membaca.



Suatu hari dari sebuah kehidupan orang-orang kota, seorang gadis yatim piatu bernama Jessica menikah lalu hidup bersama suami dan ibu mertuanya. Dengan ego masing-masing antara dua perempuan ini membuat suasana di rumah tersebut menjadi tidak karuan. Ia tidak bisa akur dengan ibu mertuanya. Mertuanya sangatlah menjengkelkan. Ia juga selalu mencela dan mencari kesalahan-kesalahan dari menantunya. Ini yang membuat Jessica tidak betah di rumah itu.

Semakin lama semakin rumit permasalahan antara mereka. Hingga berbulan-bulan bersama, mereka selalu terlibat dalam permusuhan dan perdebatan. Semua amarah dan ketidakbahagiaan di rumah tangga membuat sang suami tertekan. Ia bingung. Siapa yang harus dibela.

Jessica sudah hilang kesabaran. Ditambah suami yang tidak memberikan solusi kepadanya, ia akhirnya bertindak sendiri. Pastinya dengan dendam amarah yang besar dari hatinya kepada sang ibu mertua.

Ketika si Ibu dan suami sedang tidak di rumah, ia memutuskan pergi menemui sahabat baik almarhum ayahnya. Sebut saja Tuan Hasibuan. Tuan ini adalah seorang penasihat hukum pengusaha obat tradisional. Jessica menceritakan secara panjang lebar masalah yang dihadapinya dan memohon kepada Tuan Hasibuan untuk membuatkan ramuan racun untuk diberikan kepada ibu mertuanya. Ia berharap, dengan racun tersebut dapat menyelesaikan problema rumah tangganya.

Sebagai orang yang sudah menganggap Jessica seperti anak kandungnya, ia tak kuasa menolak permintaan sang anak. Sejenak Tuan Hasibuan berpikir, apa yang harus dilakukannya untuk Jessica.

“Baiklah, Nak. Aku akan membantumu. Tapi, kamu harus mengikuti semua aturan mainnya dariku. Apa yang aku katakan, kamu harus menurutinya.” Kata Tuan Hasibuan.

“Baik, Om. Aku akan menuruti semua perintahmu asalkan aku bisa mendapatkan yang aku inginkan.” Jawab Jessica.

Tuan Hasibuan pun pergi ke ruang kerjanya, beberapa saat ia muncul dengan sebuah bungkusan.

“Nak, kamu tidak boleh menggunakan racun ini dengan dosis yang berlebihan. Menyingkirkan mertuamu bukan perkara yang mudah. Orang juga akan curiga kepadamu karena hanya kamu yang berada di rumah itu dan tahu tentang masalah kalian setiap harinya. Ini adalah racun dengan dosis rendah namun akan menggerogoti tubuh ibumu secara perlahan. Setiap hari siapkanlah masakan yang lezat, lalu campurkan racun ini setengah sendok makan saja. Lakukan secara rutin 2x sehari selama 3 bulan. Nah, supaya orang-orang tidak curiga ketika ibumu merasakan akibat racun ini nanti, mulai sekarang kamu harus bersikap baik kepadanya. Jangan lagi kamu berdebat dan turuti semua perintahnya. Ingat, bertahanlah selama 3 bulan ini demi tujuan akhirmu!” Kata Tuan Hasibuan.

Jessica merasa senang sekali dan berterima kasih kepada Tuan Hasibuan atas bantuannya. Ia sudah tidak sabar untuk merasakan hidup yang tenteram meskipun harus menahan hati dan amarah selama proses 3 bulan tersebut.

Hari berganti hari proses tersebut berjalan lancar. Ia menuruti apa yang diperintahkan Tuan Hasibuan. Setiap pagi dan malam ia menghidangkan makanan yang lezat untuk ibu mertuanya. Ia mengendalikan amarahnya, menaati segala perintah ibu mertuanya untuk tetap bersikap tidak mencurigakan.

Setelah hampir 3 bulan, keadaan rumah tangga mereka berubah. Karena kebiasaan berpura-pura baik, Jessica sudah bisa mengendalikan semua amarahnya sehingga tidak pernah lagi merasa tertekan ketika menuruti segala kemauan sang ibu. Karena sikapnya itu, si ibu mertua pun sudah tampak lebih ramah dan terlihat menyayangi menantunya.

Sikap si ibu pun akhirnya benar-benar berubah, ia mulai menyayangi menantunya. Setiap kerabat dan temannya datang ke rumah, ia selalu membanggakan menantunya di depan para tamunya. Dengan bangganya ia bercerita kebaikan dan kesopansantunan Jessica, lezatnya masakan menantu dan sikap penurut kepadanya. Hal ini selalu didengar Jessica dari kamarnya yang tak jauh dari ruang tamu. Suaminya juga sangat bahagia dengan hal ini. Ia tidak lagi tertekan dan khawatir meninggalkan mereka berdua di rumah ketika bekerja.

Suatu malam, Jessica menangis tersedu-sedu. Ia menyesali perbuatannya selama hampir 3 bulan ini. Ia menyesal telah berbuat jahat kepada ibunya yang ternyata menyayanginya dengan tulus sedangkan ia malah berniat menghabisi sang ibu dengan racun yang diberinya setiap hari. Keesokan harinya ia bergegas menemui Tuan Hasibuan.

“Om, tolonglah aku. Aku menyesal telah meracuni ibuku selama hampir 3 bulan ini. Racun itu tinggal sedikit lagi. Aku tidak mau ibuku mati, Om! Hanya dia orangtua yang kumiliki sekarang. Tolonglah selamatkan nyawanya! Engkau pasti punya penawar dari racun yang Om buat itu!! Aku sekarang mencintainya seperti ibu kandungku sendiri!! Aku menyesal!!

Tuan Hasibuan melempar senyum dan menganggukkan kepalanya.

Hmmm.. Anakku sayang, aku bersyukur kamu telah mencintainya dengan tulus. Tak ada yang perlu kamu khawatirkan, Nak. Aku tidak pernah memberimu racun. Yang kuberikan kepadamu itu adalah ramuan tradisional yang berfungsi untuk memperbaiki kesehatan mertuamu. Ramuan itu perlahan memberikan kenyamanan untuk ibumu. Apakah kamu tidak sadar akhir-akhir ini ia tak pernah lagi terlihat mengeluh akibat nyeri yang sering kambuh di bagian bahu dan pinggangnya? Ramuan tersebutlah yang secara perlahan mengobatinya. Ibumu sekarang sudah sehat, Nak!”

Jessica hanya terdiam namun semakin deras air matanya mengalir.

Tuan Hasibuan pun melanjutkan. “Racun yang sebenarnya itu, tersimpan dalam pikiran dan sikapmu terhadapnya, Nak. Namun, kamu harus bersyukur bahwa racun itu akhirnya terkikis habis oleh kasih sayang tulus yang kau berikan padanya setiap sehari itu selama 3 bulan ini. Kamu berhasil, Nak!!”

***

Pernahkah kita sadari bahwa bagaimana kita memperlakukan orang lain, adalah bagaimana orang lain itu juga akan memperlakukan kita.

Orang yang mencintai orang lain akan mendapatkan balasan cinta dari orang itu pula.
(Pepatah Cina)

Author Unknown & Edo taZki Prasitha
Referensi: Hikmah dari Seberang (Penulis: Drs. Abu Abdillah Al-Husainy)

CONVERSATION

4 komentar:

  1. Saya kira ini punya leeminho, ternyata bukan. Mirip yah. Akhirnya saya menemukan artikel ini, keren banget ceritanya. Dimana kita diajarkan untuk menahan amarah. Dan segala sesuatu tidak harus diselesaikan dengan cara yang buruk. Cara yang baik adalah cara yang tepat untuk menyelesaikan sesuatu. Dan Jessica melakukannya dengan sangat baik. Nice article for me. Terima kasih ya sharingnya, Leeminho KW. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kunjungan yang salah ini dapat manfaatnya ya dari intisari kisah diatas. Hihihi. Semoga menginspirasi untuk kita semua.

      Hapus
  2. Saya sendiri merasa masih banyak menyimpan racun dalam hati seperti kisah diatas, menghilangkan semua itu butuh proses yang tidak sebentar dan butuh dukungan oleh orang-orang dekat di sekitar kita. Seperti kisah di atas, Jessica di dukung penuh oleh tuan Hasibuan. Permasalahannya adalah ketika akan berbuat sesuatu yang baik terkadang ada saja orang yang memvonis niat kita tidak baik, disitu peranan orang-orang dekat kita bermain. Mereka yang memberikan semangat. Terima kasih bang Edo, cerita yang sangat menginspirasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang kita tidak sadar bahwa yang bisa membunuh kita adalh diri kita sendiri, seperti racun yang ada dalam diri jessica tadi. Beruntung, si Tuan yang membantu membuang racun itu. Hehehe. Terima kasih atas kunjungannya. Semoga kisah ini dapat bermanfaat untuk kita pribadi ataupun orang lain.

      Hapus

"Komentar yang baik akan menunjukkan pribadi yang baik pula."

Terima kasih telah berkunjung dan membaca tulisan ini. Bantu SHARE yaa jika berkenan. Silahkan centang beri tahu saya untuk berinteraksi lebih lanjut di kolom komentar.

Salam hangat,
Leemindo.com